Hari Ini Aku Pura-pura Jadi Orang Lain

Namaku Shanum, mahasiswa semester dua yang hidupnya biasa-biasa aja. Aku nggak pintar-pintar banget, nggak juga populer. Aku bukan ketua angkatan, bukan si paling aktif, bahkan aku sering ikut diskusi cuma buat dengerin, bukan ngomong. Dan jujur, aku mulai capek. Capek jadi aku yang gini-gini aja.

Ada saat-saat aku mikir. “Mungkin, hidup akan lebih menarik kalau aku bukan aku. Kalau aku jadi seseorang yang… lebih. Lebih percaya diri, lebih pintar, lebih kalem, lebih bernilai.”

Entah kenapa pagi itu, begitu bangun tidur, aku memutuskan satu hal: “hari ini, aku akan pura-pura jadi orang lain.”

Aku mandi lebih lama dari biasanya, pakai baju kemeja yang rapi, bukan kaos kebesaran. Rambutku disisir, bukan dikuncir asal. Bahkan aku semprot parfum yang kupakai terakhir waktu acara wisuda SMA.

Aku ambil buku Sastra dan Identitas Sosial dari rak yang sebenarnya belum pernah aku baca. Tapi tampangnya buku ini sering dibaca oleh orang pintar, jadi cocok dibawa-bawa.

Di cermin, aku menatap bayanganku.

“Hari ini, aku bukan Shanum si biasa-biasa. Hari ini, aku orang lain.”

Di kampus, semuanya terasa… aneh.

Teman-teman menatapku seperti aku alien yang baru mendarat.

“Shanum? Eh, lo bawa buku?”

“Kamu rapi banget hari ini. Ada seminar, ya?”

“Astaga, kamu senyum? Tumben!”

Aku cuma balas dengan senyum kecil dan anggukan ringan. Kalem, pelan, penuh misteri. Ternyata menyenangkan juga, dilihat orang. Beda dari biasanya yang kayak bayangan di tembok, ada tapi nggak dianggap.

Di kelas, efeknya makin kerasa.

Bu Diah, dosen yang biasanya hanya fokus ke anak-anak aktif, tiba-tiba bilang,

“Shanum, kamu pernah baca tentang representasi sosial di puisi Chairil Anwar? Menurutmu gimana?”

Aku nyaris nge-freeze. Tapi kupaksakan diri untuk tetap tenang.

“Menurut saya, puisinya merefleksikan benturan antara identitas personal dan ketegangan zaman. Saya rasa itu sebabnya puisinya terasa sangat hidup.”

Aku nggak tahu itu beneran analisis sastra atau hasil nonton video YouTube semalam. Tapi Bu Diah tersenyum.

“Bagus. Sudut pandang yang segar.”

Teman-temanku mulai menghampiri. Yang biasanya cuma basa-basi, sekarang ngajak ngobrol. Yang dulu kayak nggak sadar aku ada, tiba-tiba ngajak duduk bareng.

“Aku baru sadar kamu tuh pinter ngomong, Shanum,” kata Sari.

“Eh, mau ke kantin bareng, nggak?”

“Ikut diskusi sore ini, ya. Seru kalo ada kamu.”

Hatiku aneh. Senang, iya. Tapi juga... nggak yakin.

Makin sore, peran yang aku mainkan mulai bikin lelah. Aku harus hati-hati ngomong. Harus senyum terus. Harus kalem. Harus ‘pintar’.

Pas harga es teh di kantin naik seribu, aku hampir protes. Tapi buru-buru kutahan dan bilang,

“Ya, menarik juga melihat tren harga makanan mahasiswa sekarang.”

Rasanya... pengen ketawa sendiri. Tapi aku tahan. Totalitas, Shanum. Kamu bukan kamu hari ini.

Pulang kuliah, aku duduk sendirian di taman kampus. Hembusan angin sore pelan-pelan menyentuh wajahku.

Rachel, salah satu teman sekelas, tiba-tiba duduk di sebelahku.

“Kamu beda banget hari ini,” katanya pelan.

“Lebih kalem, lebih… tenang. Tapi entah kenapa, aku ngerasa… ini bukan kamu.”

Aku terdiam. Kalimatnya seperti mengetuk ruang dalam yang dari tadi aku tutup rapat-rapat.

Langit mendung, udara pelan-pelan berubah.

Kepalaku mulai berat, mataku mengabur.

Aku pejamkan mata sebentar, hanya sebentar.

Dan tiba-tiba semua gelap.

Aku terbangun.

Ku lihat langit-langit kamar kos beserta kipas angin berdengung malas. Jam menunjukkan pukul 06.12.

Buku Sastra dan Identitas Sosial? Nggak ada.

Baju rapi? Nggak dipakai.

Kelas? Belum dimulai.

Aku terdiam cukup lama.

Barusan... mimpi?

Semua kejadian hari ini… obrolan dengan Bu Diah, komentar Sari, kalimat Rachel.. semuanya cuma mimpi?

Tapi… kenapa rasanya begitu nyata?

Aku berdiri, berjalan ke depan cermin.

Di sana masih Shanum. Sama seperti kemarin. Tapi ada sesuatu yang terasa... beda.

Aku menatap bayanganku sendiri sambil terdiam.

Nggak tahu harus bersikap apa.

Nggak tahu apakah mimpi itu hanya mimpi, atau sebenarnya sesuatu yang harus aku mulai sekarang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan Rasa